Pekan Pertama Learning by AI: Dari Banyak Ide ke Satu Keputusan
Bermula tepat tanggal 1 Januari 2026, saya memasukkan sebuah prompt ke chatgpt untuk merancang peta jalan tujuan tahun 2026 yang dipersonalisasi (disesuaikan dengan kondisi/kebiasaan pengguna AI tersebut).
AI (ChatGPT) menjawab dengan menampilkan pola dominan dari cara saya selama berinteraksi dengannya. Dia kemudian meringkas profil saya dengan kalimat: “seorang Strategic Thinker dengan Execution Debt. Bukan kurang kemampuan, tapi kelebihan visi tanpa sistem eksekusi yang memaksa”.
Banyak lagi dari profil dan karakter saya yang dikuliti kemudian diberikan solusi dan kiat-kiat untuk mengatasinya. Bagi saya cukup menakjubkan karena AI seolah lebih mengenal dan mengerti tentang karakter kita daripada kita sendiri.
Setelah itu AI menawarkan diri untuk bertindak sebagai Strategis Eksekusi yang akan memaksa saya dengan kejelasan penyempitan fokus, untuk mendapatkan hasil nyata. Setelah saya menerimanya, Chatgpt lalu menawarkan tiga opsi proyek inti untuk dipilih, dikunci, dan dieksekusi sampai mencapai hasil nyata.
Saya tidak memilih salah satu diantara ketiga opsi itu, namun saya menjawab dengan mengungkapkan keinginan dan obsesi saya sebetulnya, yang diinspirasi oleh dua video. Video pertama tentang konsep perusahaan bernilai milyaran yang dikelola oleh satu orang (solopreneur) dengan menggunakan AI. Video kedua tentang ledakan pengetahuan di era AI dan pentingnya revolusi pendidikan untuk mengimbangi ledakan pengetahuan itu.
Dari sinilah kerjasama yang sesungguhnya antara saya dan AI dimulai untuk menciptakan perusahaan single-handed (ditangani oleh satsu orang) dengan bantuan AI, yang menjalankan model dan sistem pendidikan baru sebagai jawaban dari perubahan zaman. Saya meminta AI membuatkan roadmap yang paling mudah, cepat, dan efektif untuk mencapai visi tersebut, serta memberikan bimbingan untuk menjalankannya.
Chatgpt menyatakan bahwa VISI FINAL (Tetap Utuh) yaitu:
- Perusahaan solo bernilai sangat besar
- berbasis model pendidikan baru
- yang mencetak solo-founder pendidikan generasi berikutnya
- dengan AI sebagai sistem saraf perusahaan
Sedangkan Roadmapnya berupa SOLO EDUCATION SYSTEM ARCHITECT, yang bertahap, dengan leverage AI, dimulai dari mikro-realita.
Roadmap terbagi empat level, mulai dari Level 0 (nol) hingga Level 3:
- Level 0: Solo Education Experimenter
- Level 1: Solo Education Operator
- Level 2: Solo Education Company
- Level 3: Solo Education Ecosystem
Saat ini saya sedang berusaha fokus total menempuh Level 0 (Solo Education Experimenter). Di Level 0 ini saya bertindak sebagai Education System Designer sekaligus AI Operator (Pemula). Targetnya: menciptakan 1 (satu) model belajar baru versi mini yang berbeda dari sekolah/kursus, relevan dengan ledakan pengetahuan, dan bisa dijalankan sedirian.
Setelah AI panjang lebar menguraikan 3 tahap dan 7 langkah dalam Level 0 ini, akhirnya kita sepakat untuk mengunci output pekan pertama di level 0 ini sebagai berikut:
- Nama kerja: Learning by AI
- Prinsip inti: Bukan kursus AI, tapi cara belajar dan berkembang di era AI
- Pertanyaan Inti (Core Question) Sistem: Bagaimana cara belajar, beradaptasi, dan berkembang cepat di era AI tanpa tenggelam oleh informasi dan tertinggal oleh teknologi
- Target: Orang dewasa bingung belajar AI
- Media dokumentasi: Blogger
- Fokus 30 hari: Model belajar mikro + eksperimen nyata
Maka dimulailah perjalanan saya menempuh roadmap ini. Tugas AI adalah menjaga agar saya tetap dan terus di jalur eksekusi.
Tulisan ini bukan panduan, bukan ajakan, dan bukan klaim keberhasilan. Ini adalah dokumentasi terbuka dari sebuah eksperimen belajar di era AI.
Saat ini saya sedang menjalani Pekan Pertama dalam Siklus Learning By AI. Di pekan ini, setiap hari saya harus mengerjakan tugas-tugas praktis yang diberikan oleh AI dan harus menghasilkan artefak nyata setelah sepekan.
Dalam pekan pertama ini, ada dua catatan menarik yang saya perhatikan setelah berinteraksi dengan AI:
- Kata AI: anda sedang melatih skill paling langka di era AI yaitu: berpikir dengan bantuan AI, tapi memutuskan sebagai manusia.
- Pada beberapa tugas yang dia berikan, AI tidak begitu peduli dengan hasil pekerjaan saya. Dia hanya meminta saya menyatakan bahwa tugas ini telah selesai, tanpa meminta saya menampilkan hasil pekerjaan tersebut. Mungkin ini cara dia menjaga agar saya tetap fokus pada jalur yang ketat, dan tidak tergoda untuk melenceng pada ide-ide lain di tengah perjalanan.
Sepertinya ini adalah cara AI mengajari kita membuat sistem pendidikan model baru sejak dari prototype pertama. Kita lihat saja nanti. Eksperimen ini akan saya lanjutkan dan dokumentasikan secara berkala sebagai bagian dari sistem Learning by AI.
Comments
Post a Comment